{"id":40,"date":"2026-06-06T21:04:30","date_gmt":"2026-06-06T19:04:30","guid":{"rendered":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/2026\/06\/06\/terapi-yang-menargetkan-mikrobiota-dan-obat-obatan-menunjukkan-hasil-yang-menjanjikan-melawan-gangguan-spektrum-autisme\/"},"modified":"2026-06-06T21:05:34","modified_gmt":"2026-06-06T19:05:34","slug":"terapi-yang-menargetkan-mikrobiota-dan-obat-obatan-menunjukkan-hasil-yang-menjanjikan-melawan-gangguan-spektrum-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/2026\/06\/06\/terapi-yang-menargetkan-mikrobiota-dan-obat-obatan-menunjukkan-hasil-yang-menjanjikan-melawan-gangguan-spektrum-autisme\/","title":{"rendered":"Terapi yang menargetkan mikrobiota dan obat-obatan menunjukkan hasil yang menjanjikan melawan gangguan spektrum autisme"},"content":{"rendered":"<p>&#8220;`html<\/p>\n<h1>Terapi yang menargetkan mikrobiota dan obat-obatan menunjukkan hasil yang menjanjikan melawan gangguan spektrum autisme<\/h1>\n<p>Gangguan spektrum autisme ditandai dengan kesulitan yang persisten dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, serta perilaku berulang. Tantangan ini, yang sering disertai dengan gejala pencernaan, menyoroti kompleksitas kondisi neurodevelopmental ini. Meskipun intervensi perilaku tetap menjadi pendekatan klinis utama, efektivitasnya bervariasi tergantung pada wilayah dan sumber daya yang tersedia, sehingga diperlukan pengembangan pengobatan farmakologis yang ditargetkan.<\/p>\n<p>Model hewan, terutama hewan pengerat, memainkan peran kunci dalam pemahaman mekanisme molekul dan pengembangan terapi. Model-model ini mereproduksi perilaku yang serupa dengan yang diamati pada manusia, seperti gangguan dalam interaksi sosial, vokalisasi, dan perilaku stereotip. Penyebab gangguan ini beragam: genetik, lingkungan, atau idiopatik. Misalnya, paparan prenatal terhadap obat-obatan atau infeksi tertentu meningkatkan risiko berkembangnya gangguan spektrum autisme.<\/p>\n<p>Sebuah tinjauan sistematis baru-baru ini menganalisis 52 studi yang diterbitkan antara 2010 dan 2025, mengeksplorasi efektivitas terapi farmakologis dan terapi yang menargetkan mikrobiota usus. Intervensi yang diteliti meliputi agen oksitosin, obat-obatan yang bekerja pada keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi neuron, kanabinoid, purin, serta strategi yang berfokus pada mikrobiota seperti probiotik, prebiotik, dan transplantasi feses. Pendekatan ini bertujuan untuk memodulasi berbagai sistem biologis, termasuk neurotransmisi, neuroinflamasi, metabolisme, dan sumbu usus-otak.<\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa defisit perilaku yang terkait dengan gangguan spektrum autisme pada model praklinis dapat dikurangi melalui intervensi yang menargetkan sistem-sistem ini. Misalnya, oksitosin, hormon yang terlibat dalam regulasi perilaku sosial, telah menunjukkan efek positif pada kesosialan dan pengurangan perilaku berulang dalam beberapa model hewan. Namun, efektivitasnya tergantung pada skema terapeutik, tahap perkembangan dan jenis kelamin hewan, serta model spesifik yang digunakan. Dalam beberapa kasus, oksitosin tidak memiliki efek pada perilaku berulang, bahkan memperburuknya.<\/p>\n<p>Intervensi lain, seperti antagonis reseptor oksitosin, juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Misalnya, atosiban, antagonis reseptor oksitosin, telah memperbaiki defisit sosial, kecemasan, dan perilaku berulang pada tikus betina yang terpapar asam valproat selama kehamilan. Hasil yang mengejutkan ini menyarankan bahwa, dalam beberapa kasus, aktivasi berlebihan sistem oksitosinergik dapat berkontribusi pada gejala, dan antagonis justru dapat bermanfaat.<\/p>\n<p>Terapi yang menargetkan keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi neuron juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Misalnya, memantine, antagonis reseptor NMDA, telah meningkatkan kesosialan dan mengurangi perilaku berulang pada tikus yang terpapar asam valproat. Demikian pula, modulator alosterik positif reseptor mGlu5, seperti CDPPB, telah mengurangi defisit perilaku pada model genetik gangguan spektrum autisme.<\/p>\n<p>Intervensi yang berbasis pada mikrobiota usus mewakili pendekatan inovatif. Transplantasi feses dan probiotik, seperti <em>Bifidobacterium longum<\/em>, telah menunjukkan perbaikan perilaku sosial dan pengurangan kecemasan. Intervensi ini bekerja dengan memodulasi metabolisme usus dan memengaruhi komunikasi antara usus dan otak. Misalnya, pemberian <em>Bifidobacterium longum<\/em> telah meningkatkan kadar triptofan dan menurunkan kadar kinurenin, metabolit yang terkait dengan neurotransmisi dan inflamasi.<\/p>\n<p>Terapi metabolik, seperti metformin dan pioglitazone, juga telah menunjukkan efek positif. Obat-obatan ini, yang sering digunakan untuk mengobati diabetes, telah meningkatkan kesosialan dan mengurangi perilaku berulang pada model hewan. Efeknya tampaknya dimediasi oleh pengurangan stres oksidatif dan neuroinflamasi, mekanisme yang sering terganggu dalam gangguan spektrum autisme.<\/p>\n<p>Kanabinoid, seperti kanabidiol dan tetrahydrocannabinol, juga telah diteliti. Meskipun efeknya bervariasi tergantung pada dosis, beberapa formulasi telah menunjukkan perbaikan perilaku sosial dan pengurangan perilaku berulang. Misalnya, minyak Avidekel, yang kaya akan kanabidiol, telah mengurangi waktu grooming dan meningkatkan kesosialan pada mencit.<\/p>\n<p>Intervensi yang menargetkan sistem purinergik, seperti suramin, juga telah menunjukkan efek yang bermanfaat. Suramin, antagonis purinergik, telah memperbaiki perilaku sosial dan mengurangi kecemasan pada model gangguan spektrum autisme yang diinduksi oleh aktivasi imun maternal atau paparan prenatal terhadap asam valproat.<\/p>\n<p>Akhirnya, vitamin, seperti vitamin D3 dan asam retinoat, telah menunjukkan efek yang menjanjikan. Asam retinoat, misalnya, telah memperbaiki perilaku sosial dan mengurangi perilaku berulang pada tikus yang terpapar asam valproat. Efek ini tampaknya dimediasi oleh modulasi aktivasi mikroglia dan neuroinflamasi.<\/p>\n<p>Hasil-hasil ini menyoroti sifat multifaktorial gangguan spektrum autisme, di mana proses sistemik saling berinteraksi daripada sekadar cacat molekul. Hal ini dapat menjelaskan keberhasilan yang terbatas dari intervensi yang ditargetkan secara tradisional dan menyarankan perubahan paradigma menuju pendekatan yang lebih sistemik, yang menggabungkan terapi farmakologis, metabolik, dan yang menargetkan mikrobiota.<\/p>\n<p>&#8220;`<\/p>\n<hr>\n<h2>Sources du m\u00e9dia<\/h2>\n<h3>Document de r\u00e9f\u00e9rence<\/h3>\n<p><strong>DOI\u00a0:<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41380-026-03663-8\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41380-026-03663-8<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre\u00a0:<\/strong> Efficacy of pharmacological and microbiota-based therapies in preclinical models of autism spectrum disorder: a systematic review<\/p>\n<p><strong>Revue : <\/strong> Molecular Psychiatry<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur : <\/strong> Springer Science and Business Media LLC<\/p>\n<p><strong>Auteurs : <\/strong> Arnas Kunevi\u010dius; Kinga Gawli\u0144ska; Aurelijus Burokas; Dawid Gawli\u0144ski<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;`html Terapi yang menargetkan mikrobiota dan obat-obatan menunjukkan hasil yang menjanjikan melawan gangguan spektrum autisme Gangguan spektrum autisme ditandai dengan kesulitan yang persisten dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, serta perilaku berulang. Tantangan ini, yang sering disertai dengan gejala pencernaan, menyoroti kompleksitas kondisi neurodevelopmental ini. Meskipun intervensi perilaku tetap menjadi pendekatan klinis utama, efektivitasnya&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/2026\/06\/06\/terapi-yang-menargetkan-mikrobiota-dan-obat-obatan-menunjukkan-hasil-yang-menjanjikan-melawan-gangguan-spektrum-autisme\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Terapi yang menargetkan mikrobiota dan obat-obatan menunjukkan hasil yang menjanjikan melawan gangguan spektrum autisme<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,3],"tags":[],"class_list":["post-40","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-budaya","category-lingkungan","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40\/revisions\/41"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psychiatryfoundation.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}